Perhatian!!!

Protected by Copyscape Online Copyright Checker
Silahkan Copy Paste Isi Blog Ini, Tapi Jangan Lupa sertakan alamat http://akperppnisolojateng.blogspot.com di postingan /alamat blog anda, agar tidak biblokir Google. Terima Kasih
Showing posts with label SISTEM PERNAPASAN. Show all posts
Showing posts with label SISTEM PERNAPASAN. Show all posts

Mengatasi masalah Asma

Musim liburan dapat menjadi tantangan bagi orang-orang dengan alergi dan asma, tetapi ada beberapa hal yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri, alergi katakan.

Alergi makanan merupakan masalah karena banyak makanan mengandung alergen seperti gandum, susu kedelai, dan kacang-kacangan, para ahli menunjukkan dalam sebuah rilis berita dari American College of Allergy, Asma dan Imunologi (ACAAI).

Sebagai contoh, masakan kalkun dapat mencakup kedelai, gandum dan susu. Sebuah kalkun alami adalah pilihan paling aman karena berisi apa pun kecuali kalkun dan air. Rekomendasi lain: Gunakan bebas gandum roti untuk isian.

Untuk membuat alergen-bebas kentang tumbuk, menggunakan kaldu ayam dan margarin sebagai pengganti susu dan mentega. Ini juga ide yang baik untuk menggantikan almond sebagai topping pada kaserol kacang hijau, yang disarankan oelh ACAAI.

Alergi labu jarang tetapi dapat menyebabkan masalah. Ini adalah cara yang baik untuk memilih alternatif makanan penutup atau untuk menyarankan bahwa tamu dengan alergi makanan yang serius membawa makanan penutup mereka sendiri.

Mengunjungi atau tinggal di rumah orang lain dapat mengekspos penderita alergi dan asma ke sejumlah pemicu lingkungan. Misalnya, sabun (sabun sabun mahal) mungkin berisi wewangian yang dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi. Jadi anda harus menggunakan sabun biasa atau membawa sendiri.

Jika host Anda memiliki hewan peliharaan, meminta mereka untuk membatasi makhluk di ruang bawah tanah tidak akan berbuat banyak yang baik. Bulu hewan peliharaan terdapat dimana-mana dan hampir mustahil untuk menghilangkan. pencegahan terbaik adalah dengan menggunakan pengobatan alergi seperti antihistamin, dan dekongestan semprot hidung atau obat-obatan asma yang sesuai, ACAAI menyarankan.

Jika Anda hosting seseorang dengan alergi atau asma, menyeluruh debu kamar tidur ekstra dan tempat tidur cuci dalam air panas untuk menghilangkan tungau debu. Jika Anda tamu, mempertimbangkan membawa bantal Anda sendiri atau alergen-bukti penutup bantal.

"Sejumlah terkait liburan memicu dapat membuat orang bersin, bersin atau, dalam kasus alergi makanan, memiliki reaksi yang lebih serius," kata Dr Myron Zitt, mantan presiden ACAAI, dalam rilis berita. "Tapi dengan perencanaan ke depan, hari dapat berjalan lancar untuk orang-orang dengan alergi atau asma. diterjemahkan dari http://www.medicinenet.com"

[+/-] Read More/Selengkapnya...

DOWNLOAD ASKEP LENGKAP SILAHKAN KLIK LINK DIBAWAH INI
ASKEP LENGKAP

Terima Kasih Telah Download,
ingin download askep lebih banyak silahkan klik Download Askep
Kami sangat berterima kasih jika pengunjung bersedia Klik Iklan yang ada

INGIN BERBISNIS SEPERTI SAYA SILAHKAN KLIK BANNER DIBAWAH INI

Manfaatkan BLOG ANDA

WATER SEAL DRAINAGE/WSD

Water Seal Drainage
Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura ( rongga pleura)

TUJUANNYA :
• Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut
• Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit cairan pleura / lubrican.

Perubahan Tekanan Rongga Pleura

Tekanan Istirahat Inspirasi Ekspirasi
Atmosfir 760 760 760
Intrapulmoner 760 757 763
Intrapleural 756 750 756

INDIKASI PEMASANGAN WSD :
• Hemotoraks, efusi pleura
• Pneumotoraks ( > 25 % )
• Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk
• Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator

KONTRA INDIKASI PEMASANGAN :
• Infeksi pada tempat pemasangan
• Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol.

CARA PEMASANGAN WSD
1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea aksillaris anterior dan media.
2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai muskulus interkostalis.
4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan. Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura / menyentuh paru.
5. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan Kelly forceps
6. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding dada
7. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
8. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
ADA BEBERAPA MACAM WSD :
1. WSD dengan satu botol
• Merupakan sistem drainage yang sangat sederhana
• Botol berfungsi selain sebagai water seal juga berfungsi sebagai botol penampung.
• Drainage berdasarkan adanya grafitasi.
• Umumnya digunakan pada pneumotoraks

2. WSD dengan dua botol
• Botol pertama sebagai penampung / drainase
• Botol kedua sebagai water seal
• Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level.
• Dapat dihubungkan sengan suction control

3. WSD dengan 3 botol
• Botol pertama sebagai penampung / drainase
• Botol kedua sebagai water seal
• Botol ke tiga sebagai suction kontrol, tekanan dikontrol dengan manometer.

[+/-] Read More/Selengkapnya...

DOWNLOAD ASKEP LENGKAP SILAHKAN KLIK LINK DIBAWAH INI
ASKEP LENGKAP

Terima Kasih Telah Download,
ingin download askep lebih banyak silahkan klik Download Askep
Kami sangat berterima kasih jika pengunjung bersedia Klik Iklan yang ada

INGIN BERBISNIS SEPERTI SAYA SILAHKAN KLIK BANNER DIBAWAH INI

Manfaatkan BLOG ANDA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS

PENGERTIAN
Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkanoleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997 )


Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dankarbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)

Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsioksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)

PATOFISIOLOGI
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda.

Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunyanormal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul.

Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.

Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).

Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan denganefek yang dikeluarkanatau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.

ETIOLOGI
1. Depresi Sistem saraf pusat
Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang menngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.

2. Kelainan neurologis primer
Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangatmempengaruhiventilasi.

3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.

4. Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar

5. Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.

PATHWAYS

clip_image002

TANDA DAN GEJALA

TANDA

Gagal Napas Total

1. Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.

2. Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi

3. Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan

Gagal nafas parsial

1. Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.

2. Ada retraksi dada

GEJALA
* Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
* Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Pemerikasan gas-gas darah arteri
Hipoksemia
Ringan : PaO2 < 80 mmHg
Sedang : PaO2 < 60 mmHg
Berat : PaO2 < 40 mmHg

• Pemeriksaan rontgen dada
Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak diketahui

• Hemodinamik
Tipe I : peningkatan PCWP

• EKG
Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan
Disritmia

PENGKAJIAN
Pengkajian Primer
1. Airway
• Peningkatan sekresi pernapasan
• Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi

2. Breathing
• Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
• Menggunakan otot aksesori pernapasan
• Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis

3. Circulation
• Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
• Sakit kepala
• Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk
• Papiledema
• Penurunan haluaran urine

PENTALAKSANAAN MEDIS
• Terapi oksigen
Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong
• Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP
• Inhalasi nebuliser
• Fisioterapi dada
• Pemantauan hemodinamik/jantung
• Pengobatan
a). Brokodilator
b). Steroid
• Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif b.d. penurunan ekspansi paru
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan
• Frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan normal
• Adanya penurunan dispneu
• Gas-gas darah dalam batas normal
Intervensi :
• Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan serta pola pernapasan.
• Kaji tanda vital dan tingkat kesasdaran setaiap jam dan prn
• Monitor pemberian trakeostomi bila PaCo2 50 mmHg atau PaO2< 60 mmHg
• Berikan oksigen dalam bantuan ventilasi dan humidifier sesuai dengan pesanan
• Pantau dan catat gas-gas darah sesuai indikasi : kaji kecenderungan kenaikan PaCO2 atau kecendurungan penurunan PaO2
• Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap 1 jam
• Pertahankan tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 sampai 45 derajat untuk mengoptimalkan pernapasan
• Berikan dorongan utnuk batuk dan napas dalam, bantu pasien untuk mebebat dada selama batuk
• Instruksikan pasien untuk melakukan pernapasan diagpragma atau bibir
• Berikan bantuan ventilasi mekanik bila PaCO > 60 mmHg. PaO2 dan PCO2 meningkat dengan frekuensi 5 mmHg/jam. PaO2 tidak dapat dipertahankan pada 60 mmHg atau lebih, atau pasien memperlihatkan keletihan atau depresi mental atau sekresi menjadi sulit untuk diatasi.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan :
• Bunyi paru bersih
• Warna kulit normal
• Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan

Intervensi :
• Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
• Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan tinmgkat kesadaran pada dokter.
• Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam PaO2
• Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau PEEP.
• Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
• Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau penyimpangan
• Pantau irama jantung
• Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
• Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.
• Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.

3. Kelebihan volume cairan b.d. edema pulmo
Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan pasien tidak terjadi kelebihan volume cairan
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan:
• TTV normal
• Balance cairan dalam batas normal
• Tidak terjadi edema
Intervensi :
• Timbang BB tiap hari
• Monitor input dan output pasien tiap 1 jam
• Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung
• Kaji tanda-tanda kelebihan volume : edema, BB , CVP
• Monitor parameter hemodinamik
• Kolaburasi untuk pemberian cairandan elektrolit

4. Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan curah jantung
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu mempertahankan perfusi jaringan.
Kriteria Hasil :
Pasien mampu menunjukkan
• Status hemodinamik dalam bata normal
• TTV normal
Intervensi :
• Kaji tingkat kesadaran
• Kaji penurunan perfusi jaringan
• Kaji status hemodinamik
• Kaji irama EKG
• Kaji sistem gastrointestinal

Daftar pustaka

Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpia.

Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.

Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.

Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Company, Philadelphia.


http://akperppnisolojateng.blogspot.com/2008/10/materi-perkulihan-keperawatan-komunitas.html

[+/-] Read More/Selengkapnya...

DOWNLOAD ASKEP LENGKAP SILAHKAN KLIK LINK DIBAWAH INI
ASKEP LENGKAP

Terima Kasih Telah Download,
ingin download askep lebih banyak silahkan klik Download Askep
Kami sangat berterima kasih jika pengunjung bersedia Klik Iklan yang ada

INGIN BERBISNIS SEPERTI SAYA SILAHKAN KLIK BANNER DIBAWAH INI

Manfaatkan BLOG ANDA

DIAGNOSA, TUJUAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN SALURAN PERNAPASAN

1.     Ketidakefektifan bersihan jalan napas

a.   
Definisi:

ketidakmampuan utk membersihkan sekresi atau obstruksi saluran pernapasan guna empertahankan jalan napas yg bersih

b.    Batasan karakteristik



1)       Bunyi napas tambahan (contoh: ronki basah halus,ronki basah kasar)

2)       Perubahan irama dan frekuensi pernpasan

3)       Tidak mampu/tidak efektifnya batuk

4)       Sianosis

5)       Sulit bersuara

6)       Penurunan bunyi napas

7)       Gelisah

8)       Adanya sputum


c.     Faktor yang berubungan

1)       Obstruksi jalan napas: spasme jalan napas, pengumpulan sekresi, mukus berlebih, adanya jalan napas buatan, terdapat benda asing, sekresi pada bronki dan eksudat pada alveoli.

2)       Fisiologi: disfungsi neuromuskuler, hiperplasia dinding bronkial, PPOK, infeksi, asma, alergi jalan napas dan trauma.

d.    NOC

1)      Status pernapasan: pertukaran gas: SaO2 dalam batas normal, mudah bernapas, tidak ada dispnea/sianosis/gelisah, temuan sinar X dada dalam rentang yang diharapkan, pertukaran CO2 atau O2 alveolar untuk memertahankan konsentrasi gas darah arteri.

2)      Ventilasi: pergerakan udara masuk dan keluar paru

Contoh penulisan tujuan berdasar Nursing Outcome Classification:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam, pasien akan:

1)      Mempunyai jalan napas paten

2)      Dapat mengeluarkan sekret secara efektif

3)      Irama dan frekuensi napas dalam rentang normal

4)      Mempunyai fungsi paru dalam batas normal

5)      Mampu mendiskripsikan rencana untuk perawatan di rumah

e.    NIC prioritas

1)      Pengelolaan jalan napas: fasilitas untuk kepatenan jalan udara

2)      Pengisapan jalan napas: memindahkan sekresi jalan napas dengan memasukkan sebuah kateter penghisap ke dalam jalan napas oral dan atau trakea.

AKTIVITAS:

1)      Kaji dan dokumentasikan keefektifan pemberian oksigen, pengobatan yang diresepkan dan kaji kecenderungan pada gas darah arteri

2)      Auskultasi bagian dada anterior dan posterior untuk mengetahui adanya penurunan atau tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi tambahan

3)      Tentukan kebutuhan pengisapan oral dan atau trakea

4)      Pantau status oksigen pasien dan status hemodinamik (tingkat Mean Arterial Pressure dan irama jantung) segera sebelum, selama dan setelah pengisapan

5)      Catat tipe dan jumlah sekret yang dikumpulkan.

PENDIDIKAN UNTUK PASIEN/KELUARGA:

6)      Jelaskan pengunaan peralatan pendukung dengan benar (misalnya oksigen, pengisapan, spirometer, inhaler)

7)      Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa merokok merupakan kegiatan yang dilarang di dalam ruang perawatan

8)      Instruksikan kepada pasien dan keluarga dalam rencana perawatan di rumah (misal pengobatan, hidrasi, nebulisasi, peralatan, drainase postural, tanda dan gejala komplikasi)

9)      Instruksikan kepada pasien tentang batuk efektif dan teknik napas dalam untuk memudahkan keluarnya sekresi

10)   Ajarkan untuk mencatat dan mencermati perubahan pada sputum seperti: warna, karakter, jumlah dan bau

11)   Ajarkan pada pasien atau keluarga bagaimana cara melakukan pengisapan sesuai denan kebutuhan.

AKTIVITAS KOLABORASI

12)   Konsultasikan dengan dokter atau ahli pernapasan tentang kebutuhan untuk perkusi dan atau alat pendukung

13)   Berikan oksigen yang telah dihumidifikasi sesuai protap

14)   Bantu dengan memberikan aerosol, nebulizer dan perawatan paru lain sesuai kebijakan institusi

15)   Beritahu dokter ketika analisa gas darah arteri abnormal

AKTIVITAS LAIN

16)   Anjurkan aktivitas fisik untuk meningkatkan pergerakan sekresi

17)   Lakukan ambulasi tiap dua jam jika pasien mampu

18)   Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur untuk menurunkan kecemasan dan peningkatan kontrol diri.

19)   Pertahankan keadekuatan hidrasi untuk menurunkan viskositas sekret

 

2.     Ketidakefektifan pola napas

a.    Definisi: inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi yang adekuat.

b.    Batasan karakteristik


1)      Pasien mengeluh sesak napas atau napas pendek-pendek

2)      Perubahan gerakan dada

3)      Penurunan tekanan inspirasi /ekspirasi

4)      Penurunan kapasitas vital paru

5)      Napas dalam

6)      Peningkatan diameter anterior-posterior paru

7)      Napas cuping hidung

8)      Ortopnea

9)      Fase ekspirasi lama

10)   Pernapasan purse lip

11)   Pengunaan otot-otot bantu napas

c.     Faktor yang berubungan


1)       Ansietas

2)       Posisi tubuh

3)       Deformitas tulang

4)       Deformitas dinding dada

5)       Penurunan energi/terjadi kelelahan

6)       Hiperventilasi

7)       Sindrom hipoventilasi

8)       Kerusakan muskuloskeletal

9)       Imaturitas neurologis

10)   Disfungsi neuromuskular

11)   Obesitas

12)   Nyeri

13)   Kerusakan persepsi/kognitif

14)   Kelelahan otot-otot respirasi

15)   Cedera tulang belakang


d.    NOC

1)      Status Respirasi: Ventilasi: pergerakan udara masuk dan keluar paru

2)      Status tanda vital: Suhu, nadi, respirasi dan tekanan darah dalam rentang yang diharapkan dari individu

Contoh: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien diharapkan menunjukkan status pernapasan: ventilasi tidak terganggu ditandai dengan:

1)       Napas pendek tidak ada

2)       Tidak ada penggunaan otot bantu

3)       Bunyi napastambahan tidak ada

4)       Ekspansi dada simetris

e.    NIC prioritas

1)       Pengelolaan jalan napas: fasilitasi untuk kepatenan jalan napas

2)       Pemantauan pernapasan: pengumpulan dan analisis data pasien untuk memastikan kepatenan jalan napas dan keadekuatan pertukaran gas.

AKTIVITAS

1)      Pantau adanya pucat atau sianosis

2)      Pantau efek obat terhadap status respirasi

3)      Tentukan lokasi dan luasnya krepitasi di tulang dada

4)      Kaji kebutuhan insersi jalan napas

5)      Observasi dan dokumentasikan ekspansi dada bilateral pada pasien dengan ventilator

Pemantauan pernapasan (NIC):

6)      Pantau kecepatan, irama, kedalaman dan usaha respirasi

7)      Perhatikan pergerakan dada, kesimetrisannya, penggunaan otot bantu serta retraksi otot supraklavikular dan interkostal

8)      Pantau respirasi yang berbunyi

9)      Pantau pola pernapasan: bradipnea, takipnea, hiperventilasi, pernapasan Kussmaul, pernapasan Cheyne-Stokes

10)   Perhatikan lokasi trakea

11)   Auskultasi bunyi napas, perhatikan area penurunan sampai tidak adanya bunyi napas atau bunyi napas tambahan

12)   Pantau kegelisahan, ansietas, dan tersengal-sengal

13)   Catat perubahan pada saturasi oksigen dan nilai gas darah arteri

PENDIDIKAN UNTUK PESIEN DAN KELUARGA

14)   Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk meningkatkan pola napas. Spesifikan teknik yang digunakan, misal: napas dalam

15)   Diskusikan perencanaan perawatan di rumah (pengobatan, peralatan) dan anjurkan untuk mengawasi dan melapor jika ada komplikasi yang muncul.

16)   Ajarkan cara batuk efektif

AKTIVITAS KOLABORATIF

17)    Rujuk pada ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator mekanis

18)    Laporkan adanya perubahan sensori, bunyi napas, pola pernapasan, nilai AGD, sputum, dst, sesuai kebutuhan atau protokol

19)    Berikan tindakan(misal pemberian bronkodilator) sesuai program terapi

20)    Berikan nebulizer dan humidifier atau oksigen sesuai program atau protokol

21)    Berikan obat nyeri untuk pengoptimalan pola pernapasan, spesifikkan jadwal

AKTIVITAS LAIN

22)    Hubungkan dan dokumentasikan semua data pengkajian (misal: bunyi napas, pola napas, nilai AGD, sputum dan efek obat pada pasien)

23)    Ajurkan pasien untuk napas dalam melalui abdomen selama periode distres pernapasan

24)    Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan untuk membersihkan sekresi

25)    Minta pasien untuk pindah posisi, batuk dan napas dalam

26)    Informasikan kepada pasien sebelum prosedur dimulai untuk menurunkan kecemasan

27)    Pertahankan oksigen aliran rendah dengan nasal kanul, masker, sungkup. Spesifikkan kecepatan aliran.

28)    Posisikan pasien untuk mengoptimalkan pernapasan. Spesifikkan posisi.

29)    Sinkronisasikan antara pola pernapasan pasien dan kecepatan ventilasi.

 

3.     Gangguan pertukaran gas

a.    Definisi:

: Kelebihan dan kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida di membran kapilar-alveolar

b.    Batasan karakteristik

Subyektif: dispnea, sakit pada saat bangun dan gangguan penglihatan

Obyektif:


1)      Gas darah arteri tidak normal

2)      pH arteri tidak normal

3)      Ketidaknormalan frekuensi dan kedalaman pernapasan

4)      Warna kulit tidak normal

5)      Konfusi

6)      Sianosis

7)      Karbondioksida menurun

8)      Diaforesis

9)      Hiperkapnia

10)   Hiperkarbia

11)   Hipoksia

12)   Hipoksemia

13)   Iritabilitas

14)   Cuping hidung mengembang

15)   Gelisah

16)   Somnolen

17)   Takikardi


c.     Faktor yang berubungan

1)      Perubahan membran kapiler-alveolar

2)      Ketidakseimbangan perfusi-ventilasi

d.    NOC

1)      Status Pernapasan: pertukaran gas: Pertukaran CO2 atau O2 di alveolar untuk memertahankan konsentrasi gas darah arteri

2)      Status Pernapasan: ventilasi: Perpindahan udara masuk dan keluar dari paru-paru

Contoh: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, pasien mempunyai status pernapasan: pertukaran gas tidak akan terganggu dibuktikan dengan:

1)     Status neurologis dalam rentang yang diharapkan

2)     Dispnea pada saat istirahat dan aktivitas tidak ada

3)     PaO2, PaCO2, pH arteri dan SaO2 dalam batas normal

4)     Tidak ada gelisah, sianosis, dan keletihan

e.    NIC

1)      Pengelolaan Asam-Basa: meningkatkan keseimbangan asam-basa dan mencegah komplikasi akibat dari ketidakseimbangannya

2)      Pengelolaan jalan napas: memfasilitasi kepatenan jalan napas

AKTIVITAS KEPERAWATAN

1)     Kaji bunyi paru, frekuensi napas,kedalaman dan usaha napas serta produksi sputum

2)     Pantau saturasi O2 dengan oksimeter nadi

3)     Pantau hasil gas darah (misal PaO2 yang rendah, PaCO2 yang meningkat, kemunduran tingkat respirasi)

4)     Pantau kadar elektrolit

5)     Pantau status mental

6)     Peningkatan frekuensi pemantauan pada saat pasien tampak somnolen

7)     Observasi terhadap sianosis, terutama membran mukosa mulut

8)     Identifikasi kebutuhan pasien akan insersi jalan napas aktual/potensial

9)     Auskultasi bunyi napas, tandai area penurunan atau hilangnya ventilasi dan adanya bunyi tambahan

10) Pantau status pernapasan dan oksigenasi

PENDIDIKAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

11) Jelaskan penggunaan alat bantu yang diperlukan (oksigen, pengisap,spirometer)

12) Ajarkan teknik bernapas dan relaksasi

13) Jelaskan pada pasien dan keluarga alasan suatu tindakan dilakukan misal: terapi oksigen

14) Ajarkan teknik perawatan di rumah (pengobatan, aktivitas, alat bantu, tanda dan gejala yang perlu dilaporkan)

15) Ajarkan batuk efektif

AKTIVITAS KOLABORATIF

16) Konsultasikan dengan dokter tentang kebutuhan akan pemeriksaan gas darah arteri dan penggunaan alat bantu yang dianjurkan sesuai dengan adanya perubahan kondisi pasien.

17) Laporkan perubahan sehubungan dengan pengkajian data (misal: bunyi napas, pola napas, analisa gas darah arteri,sputum,efek dari pengobatan)

18) Berikan obat yang diresepkan (misal: natrium bikarbonat) untuk mempertahankan kesiembangan asam-basa

19) Siapkan pasien untuk ventilasi mekanis

20) Berikan oksigen atau udara yang dilembabkan sesuai dengan keperluan

21) Berikan bronkodilator, aerosol, nebulasi

AKTIVITAS LAIN

22) Jelaskan kepada pasien sebelum memulai pelaksanaan prosedur untuk menurunkan ansietas dan meningkatkan rasa kendali

23) Beri jaminan kepada pasien selama periode disstres atau cemas

24) Lakukan higiene mulut secara teratur

25) Lakukan tindakan untuk menurunkan konsumsi oksigen (misal mengurangi kecemasan, pengendalian demam dan nyeri)

26) Atur posisi untuk memaksimalkan potensial ventilasi dan megurangi dispnea

27) Masukkan jalan napas buatan melalui hidung atau nasofaring

28) Lakukan fisioterapi dada sesuai kebutuhan

29) Bersihkan sekret dengan suctioning atau batuk efektif

30) Rencanakan perawatan pasien yang menggunakan ventilator:

a).    Meyakinkan keadekuatan pemberian oksigen dengan melaporkan ketidaknormalan gas darah arteri, menggunakan ambubeg yang dilekatkan pada sumber oksigen di sisi bed dan melakukan hiperoksigenasi sebelum melakukan pengisapan.

b).    Meyakinkan keefektifan pola napas dengan megkaji sinkronisasi dan kemungkinan kebutuhan sedasi.

c).     Memertahankan kepatenan jalan napas dengan melakukan pengisapan dan memertahankan selang endotrakea atau pindahkan ke sisi tempat tidur.

d).    Memantau komplikasi (pneumotoraks)

e).    Memastikan ketepatan penempatan selang ET


[+/-] Read More/Selengkapnya...

DOWNLOAD ASKEP LENGKAP SILAHKAN KLIK LINK DIBAWAH INI
ASKEP LENGKAP

Terima Kasih Telah Download,
ingin download askep lebih banyak silahkan klik Download Askep
Kami sangat berterima kasih jika pengunjung bersedia Klik Iklan yang ada

INGIN BERBISNIS SEPERTI SAYA SILAHKAN KLIK BANNER DIBAWAH INI

Manfaatkan BLOG ANDA

Tukeran Link

COPAS Kode dibawah ke blogmu

Tampilan Diblog akan seperti ini
akper,Keperawatan,PPNI,Solo

CARI DISINI

 


Ingin pasang iklan
dapat duit Klik Disini

Follow-Me

SMS Ke teman anda disini GRATIS

.

[KEMBALI KE ATAS ]